Sekilas Mengenai Dasar Dunia Breeding Ayam Aduan, Hal yang selalu menjadi pertanyaan bagi para peternak Ayam Aduan, kenapa ternak kita hasilnya acak-acakan dan banyak yang jelek, hasil tidak seragam, dan kualitas mutunya lambat laun terasa semakin menurun
Hal yang selalu menjadi pertanyaan bagi para peternak Ayam Aduan, kenapa ternak kita hasilnya acak-acakan dan banyak yang jelek, hasil tidak seragam, dan kualitas mutunya lambat laun terasa semakin menurun. Kebanyakan peternak di Indonesia sangat fanatik dgn trah juara. Tapi anakannya tidak ada yg juara. Ini menimbulkan pertanyaan tersendiri. Salah satu penyebabnya mungkin karena indukan kita geno-typenya tidak seragam alias acak-acakan. Itulah sebabnya diperlukan ternak dengan "rekayasa genetika" untuk menyeragamkan geno-type melalui proses ternak yang lebih terpadu, sistematis atau terpola dengan baik bukan sekedar ayam menangan saja.
Beberapa Istilah dasar yang harus diketahui dalam dunia breeding :
Inbreed
Perkawinan antara dua individu yang memiliki hubungan darah sangat dekat. Yaitu Ibu dengan anak, bapak dengan anak dan anak dengan anak.
Line breed
Perkawinan dua individu yang memiliki hubungan darah tidak terlalu jauh. Contohnya Kakek dengan cucu, paman dengan keponakan dan lain-lain.
Cross breed
Perkawinan antara 2 individu yg tidak memiliki hubungan darah. Atau minimal hubungan darahnya sangat jauh.
Super breed
Individu yang selalu mampu menurunkan sifat-sifat terbaik pada keturunannya.
Super fight
Individu yang diproyeksikan khusus untuk lomba/tarung.
Sebuah Artikel yang ditulis oleh Steven van Breemen, sesuai dengan pengalamannya beternak merpati pos di Eropa. Dituangkan dalam buku berjudul Mini Course The Art of Breeding. Meskipun hewan yg digunakan adalah merpati, bisa diterapkan pada Ayam karena mengingat ayam juga termasuk bangsa aves /Unggas. Mengingat kedua spesies ini banyak memiliki kesamaan. Berikut ringkasannya : Steven Van Breemen mengembangkan sebuah metode ternak yang disebut :"population genetics". Tujuan metode ini adalah membangun suatu populasi yang ada dalam kandang dengan ciri-ciri genetikayang kurang lebih sama (homogen). Misalnya, kalau kita punya 50 ayam di kandang, maka semuanya mempunyai ciri kualitas karakter yang relatif sama (tentu tidak 100 % sama, tapi kalaupun berbeda tidak terlalu jauh). Dari kesamaan karakter ini, kita akan mampu memunculkan hasil ternak yang selalu stabil mutunya. Artinya, kita bisa mendapatkan stok super breeder unggulan yang pada akhirnya mampu memunculkan super fight. Metode ini merupakan pengembangan dari teori Gregory Mendel yg dimodifikasi. Aplikasinya dengan menggunakan prinsip Cross Breed, Inbreed dan Line breed secara sistematis dan tercatat dgn detail. Teori population genetic hanya cocok diterapkan oleh breeder yang serius, konsisten dan mempunyai visi jauh ke depan. Jadi harus diawali dengan suatu angan-angan tentang kualitas ayam yg nantinya ingin kita hasilkan. Berikut penerapannya di lapangan :
Tahapan ternak berdasar teori ini :
Cross breed 1 -----> Inbreed -----> Line breed -----> Cross breed
Cross breed I
Sebelum mulai ternak, kita harus berkhayal dulu. Berkhayal tentang seperti apa typical karakter ayam terbaik yang kita idam-idamkan. Bukan sekedar ikut-ikutan hanya melihat ayam juara yang ada. Ayam juara belum tentu sempurna. Maka khayalan kita harus jauh lebih bagus dari sekedar juara. Agak idealis kelihatannya, tapi inilah cita cita yang harus dicapai, bagaimanapun sulitnya.
Untuk cross breed I, carilah pasangan indukan sesuai dengan kriteria khayalan kita tersebut. Memakai ayam juara lebih dianjurkan. Tapi jangan asal comot saja. Ayam juara banyak ragam typikal kerjanya. Misalkan ingin punya ayam dgn pukul keras, maka carilah ayam juara yang tipikal kerjanya pukul keras. Kemudian cari juga pasangan betinanya yg keturunan ayam pukul keras. Hasil dari cross breed 1 ini diharapkan muncul ayam-ayam dengan karakter pukul keras secara merata pada anakannya. Cross breed 1 ini dianggap tahap yang paling penting untuk pondasi tahapan breeding berikutnya. Hasil anakan 75% harus rata karakternya. Ini untuk menghindari resiko besar pada tahapan breeding selanjutnya (inbreed), dan menghindari set back yg bisa membuang waktu percuma.
Inbreed
Tujuan inbreed adalah mencetak breeder (parental stock) yg menyatukan sifat-sifat positif yang dimiliki agar lebih kuat daya turun ke anaknya (dominan). Hasil inilah yg disebut 'investasi', modal dasar dan aset ternakan kita yg sangat berharga. Anakan hasil inbreed, biasanya tidak memiliki ‘vitalitas’. Yaitu rentan terhadap penyakit, dan fisik/staminanya loyo. Ini tidak menjadi masalah, karena tujuan utamanya adalah untuk parental stock, bukan untuk dijadikan fighter. Sukur-sukur kalau ternyata hasilnya bisa jadi petarung. Pada akhirnya, kurangnya vitalitas ini dapat diperbaiki melalui tahapan berikutnya.
Line breed
Setelah dapat 'modal' dari inbreed, diperkuat lagi dgn line breed. Bila dipasangkan (misalnya) dgn paman yg punya pukul keras, hasilnya sudah bisa dipastikan ayam dengan karakter pukul sempurna yang sangat dominan. Mungkin inilah yg dimaksud oleh Steven sebagai 'super breed' yaitu ayam yang memiliki daya turun breeding yang kuat terhadap anak-anaknya
Cross breed 2
Super breed ini boleh dicoba untuk disilang dengan ayam dari trah lain (cross breed ke 2). Tujuannya untuk menambah daya vitalitas dan menyempurnakan karakter. Kalau di cross dengan ayam lain yang pukul keras, hasilnya pasti ayam dengan pukulan sempurna. Kalau di cross dengan ayam yang sifatnya agak berbeda, tekhnik bagus misalnya maka pukul kerasnya tidak akan hilang. Justru kita berharap ayam dgn tipikal pukulkeras dan teknik bagus. Inilah yang dimaksud Mr. Steven sebagai ‘Super fighter’.
Beberapa prinsip yang harus dipahami :
- Tujuan utama teori population genetics adalah untuk melestarikan karakter/sifat-sifat unggul dari indukan (untuk mudahnya kita pakai saja istilah "geno-type"), bukan mempertahankan ciri-ciri fisik (feno-type). Dengan kata lain, tujuan teori ini adalah menciptakan ‘super breeder’.
- Inbreeding pada prinsipnya adalah upaya menggabungkan sifat-sifat/ karakter 2 individu yang berbeda, baik karakter yang positif maupun negatif. (Ingat, tidak ada ayam yang sempurna). Oleh karenanya rumus inbreeding adalah "the best x the best". Mr. Breemen memakai istilah super breeder x super breeder. Yang kedua, super breeder harus mempunyai karakteristik yang dapat mendukung "khayalan" kualitas ayam yang ingin dihasilkan dari ternak kita. Misalnya kalau kita menghayalkan bahwa hasil ternakan kita harus teknik bagus, maka cari indukan yang teknik bagus. Kalau sekarang belum memiliki atau belum mampu memiliki indukan yang "ideal", menurut saya tidak perlu khawatir karena kualitas indukan dapat diperbaiki melalui cross-breeding. Mungkin ada yang bertanya, kalau kita sudah punya "super breeder" kenapa tidak itu saja diternak dannggak perlu repot-repot pake teori population genetic? Kalau tujuan kita ternak hanya jangka pendek memang teori population genetics tidak perlu, tapi seperti dijelaskan sebelumnya, tujuan kita adalah jangka panjang. Perlu diingat bahwa super breeder yang kita punya suatu saat akan mati, mandul, atau sakit. Kalau ini terjadi maka kita kehilangan modal. Itu sebabnya banyak peternak besar yang gagal mempertahankan standar kualitasnya dan terus menurun. Dan banyak ayam-ayam juara yang terputus generasinya.
- Cross-breeding yang pertama adalah pada saat awal memulai ternak dimana indukan berasal dari dua darah (strain) yang berbeda sedangkan cross-breeding yang kedua dilakukan dengan dua tujuan, yaitu apabila kita ingin memproduksi petarung dan untuk memperbaiki kualitas darah yang sudah ada (menambahkan elemen baru atau "additive characteristics" yang sudah ada).
- Aplikasi teori population genetics menuntut adanya sistem seleksi yang ekstra ketat. Beberapa waktu yang lalu ada pendapat yg mengatakan untuk bisa memakai sistem inbreeding, maka kita harus menjadi ahli "membunuh". Istilah ini sebenarnya hanya untuk memberikan tekanan bahwa anakan yang akan melanjutkan generasi indukan harus diseleksi secara ketat. Pilihlah anak betina yang mirip bapaknya dan anak jantan yang mirip ibunya. Yang perlu dipahami, pengertian "mirip" disini bukan mirip secara fisik, tapi yang lebih penting adalah karakternya (tetapi kalau secara fisik juga mirip ya tidak apa-apa). Di sini lagi-lagi diperlukan "feeling" dan keahlian dalam melakukan seleksi. Agar kita bisa melakukan seleksi, misalnya untuk mengambil 1 pasang pada setiap generasi kita tetaskan 3 X, lalu dari situ dilakukan seleksi untuk menentukan 1 pasang yang akan melanjutkan karakter moyangnya (ancestors). Semakin banyak pilihan yang akan diseleksi, akan semakin bagus.
- Hasil inbreeding selalu ditandai dengan ciri-ciri kehilangan vitalitas (ayam hasil inbreedingmenunjukkan gejala penurunan vitalitas). Prof. Anker bahkan menegaskan bahwa semakin besar hilangnya vitalitas pada ayam hasil in-breeding berarti efek dari inbreeding itu lebih bagus (confusedconfused). Ayam hasil inbreeding tidak cocok untuk tarung, tapi hanya cocok untuk menjadi indukan (orang eropa biasanya beli burung bukan untuk dimainkan tapi untuk breeding). Turunannya nanti yang dimainkan. Vitalitas yang hilang itu akan didapatkan kembali apabila hasil inbreeding di-cross dengan ayam lain. Inbreeding dimaksudkan untuk membangun sifat-sifat yang akan selalu diturunkan kepada turunannya (offspring), sedangkan cross-breeding untuk menambah sifat-sifat/ karakter yang sudah ada seperti menambah vitalitas, karakter dan kekuatan. Dengan in-breeding kita bisa memperbaiki kualitas yang jelek. In-breeding adalah pengurangan variasi atau keragaman. Semakin banyak/sering suatu darah tertentu (strain) dilakukan in-breed maka turunannya akan mirip satu sama lain. Menjodohkan bapak dan anaknya yg cewek atau ibu dengan anaknya yg cowok lebih efektif hasilnya dari pada menjodohkan kakak dengan adiknya (meskipun sama-sama in-breeding tapi sepertinya hasilnya berbeda.
